“Apa yang kau lakukan, jika kau mengetahui KAPAN orang-orang yang kau kenal meninggal?
Mencoba menolong mereka? Mengingatkan? Mendoakan? Atau…?”***
Teja, mengusap ingus yang mengalir dari hidungnya. Ia tidak mengerti melihat sosok wanita di pembaringan itu perlahan membiru. Bayangan gelap itu turun dari ubun-ubun, ke wajahnya, ke dada, terus turun perlahan sampai menyelimuti kaki dan seiring nafas yang terdengar menghela pasrah, kabut putih melayang dari ujung kakinya.
Benak kecil Teja tidak mengerti, tapi nuraninya memahami. Perlahan air mata menetes dari sudut matanya. Kabut putih itu kini makin menjelas, serupa bayangan ibunya. Di bibirnya terulas senyum tipis, ketika bayangan tangan yang tembus pandang itu melambai padanya.
Dan tiba-tiba semua pandangannya berputar. Melingkar seperti pusaran air. Cepat, secepat kilatan lampu blitz kamera ayahnya. Memusat ke dalam satu lubang gelap yang kini mengucap namanya, perlahan.
“Teja..? Kamu dengar ibu nak?”
***
Disclaimer:
Cerber ini
tidaktermasuk dalam material yang bebas dipakai sesuai konsep Copyleft
Posted from WordPress for BlackBerry.

ini awas aja kalo udah bikin cerita bersambung gini, lagi asik2 diikuti tau2 blognya dihapus
hehe… mudah-mudahan aja
Pingback: Cerber: Peramal Kematian 2 | Tonk Kosonk Baonk Bunyinya·
Pingback: Cerber: Peramal Kematian 3 | Tonk Kosonk Baonk Bunyinya·